Monday, January 13, 2014

KISAH BENAR CINTA RASUL - NENEK PENGUTIP DAUN

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga. Dia menjual bunganya di pasar hanya dengan berjalan kaki walaupun jauh. Seusai jualan, dia akan pergi ke masjid di kota itu, dia berwudhu, masuk masjid, dan melaksanakan sholat Zohor. Setelah membaca doa-doa sekadarnya, dia keluar masjid dan membongkuk-bongkuk di halaman masjid. Dia mengumpulkan daun-daun kering yang bertebaran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikutipnya. Tidak sehelaipun dia tinggalkan. Sudah tentu dia mengambil masa yang agak lama untuk membersihkan halaman masjid dengan cara sebegitu. Walaupun matahari terik dan peluh membasahi seluruh tubuhnya.


Banyak pengunjung masjid yang kasihan dan hairan kepadanya. Pada suatu hari jawatankuasa masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua datang. Pada hari itu, dia datang sebagaimana biasanya setelah wudhu' terus masuk masjid. Selesai sholat, ketika dia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, dia terkejut. Tidak ada satupun daun berserak disitu, dia masuk semula kedalam masjid dan menangis. Dia bertanya mengapa daun-daun itu sudah disapu sebelum kedatangannya. Orang-orang didalam masjid itu menjelaskan bahawa mereka kasihan kepadanya.

GAMBAR HIASAN
“Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan peluang kepadaku untuk membersihkannya.”


Dipendekkan cerita, nenek itu dibiarkan kembali mengumpulkan dedaun kering itu seperti biasa. Seorang Imam yang disegani penduduk disitu diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa dia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu.


Perempuan tua itu mahu menjelaskan tetapi dengan dua syarat: pertama, hanya Imam itu sahaja yang boleh mendengarkan rahsianya; kedua, rahsia itu tidak boleh disebarkan ketika dia masih hidup.


Sekarang perempuan tua itu sudah meninggal dunia, dan tentu saja anda boleh mendengar rahsia itu.


“Saya ini perempuan bodoh, pak imam,” katanya. “Saya tahu amal-amal saya yang sedikit itu mungkin tidak dapat saya jalankan dengan baik dan benar; saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat nanti tanpa mendapat syafa’at Junjungan Nabi Muhammad S.A.W. Setiap kali saya mengutip selembar daun, saya berselawat kepada Rasulullah. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya telah berselawat kepadanya.”

Perempuan tua dari kampung itu, bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus, dia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Allah S.W.T. Lebih dari itu, dia juga memiliki kesedaran lahiriah yang luhur. Dia tidak hanya bergantung kepada amalnya, namun dia sangat tergantung pada rahmat Allah S,W.T. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat kepada seluruh alam selain Baginda Rasulullah S.A.W?

Pada zaman Rasulullah S.A.W, seorang Arab badui datang ke masjid Nabi, beberapa saat sebelum sholat didirikan. dia menyelinap memotong barisan, mendekati Nabi S.A.W. Nabi S.A.W sedang bersiap-siap untuk mengimami sholat. Dengan berani, dia bertanya “Ya Rasulullah, bila kiamat terjadi?”

Anas bin Malik, yang menyampaikan peristiwa ini kepada kita berkata, “Kami sangat takjub ada orang dari dusun berani bertanya kepada Nabi S.A.W.” Rasulullah melakukan sholat tanpa menjawab pertanyaan itu. Setelah usai sholat, beliau menghadap kepada jama’ahnya: “Mana orang yang bertanya tentang hari kiamat itu?” Orang Arab dusun itu berkata, “Saya, ya Rasulullah”

“Apa yang sudah kamu persiapkan untuk hari kiamat?” Mendengar pertanyaan Nabi S.A.W itu, seluruh keberaniannya hilang. dia menundukkan kepalanya sambil berkata perlahan:

“Wallaah, maa a’dadtu lahaa min katsiiri ‘amalii, shalaatin wa la shawmin, illa innii uhibbullaaha wa rasuulih.” 

Demi Allah, aku tiada mempersiapkan amal yang banyak, tiada sholat yang banyak dan tiada puasa yang banyak, tetapi saya mencintai Allah dan RasulNya. 

Nabi S.A.W bersabda “Innaka ma’a man ahbabta!” 
Sesungguhnya engkau bersama orang yang engkau cintai.

Seperti tanaman yang baru disiram air, orang Arab dusun itu sangat gembira. Para sahabat lain merasa bahawa merekapun seperti dia. Mereka tidak punya bekal yang cukup untuk hari kiamat selain kecintaan kepada junjungan mereka, Rasulullah S.A.W. Mereka bertanya: “Ya Rasulullah, apakah ucapanmu itu hanya untuk dia?” “Tidak,” sabda Nabi; “Itu berlaku buat kalian dan buat ummat setelah kalian.” Kata Anas bin Malik, “Belum pernah aku melihat sahabat Nabi S.A.W teramat gembira seperti pada hari itu.” (Hayat al-Shahabah 2:252).

Sehubungan dengan peristiwa tersebut maka turunlah ayat:
“Dan barang siapa yang mentaati Allah dan RasulNya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah iaitu; para Nabi, para Shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS 4:69)

Jika dengan mencintai Rasulullah dapat terhindar dari api neraka, kenapakah kita tidak mencintai junjungan kita Nabi kita dengan selalu berselawat kepadanya dan menuruti segala sunnahnya.




~~~~~ info ~~~~ iklan ~~~~ makluman ~~~~ 
-

Apa Komen Anda?

No comments :